Beberapa bulan kemaren gue sempet punya sepasang hamster. Gue miara hamster-hamster itu bareng si Gagat. Gagat adalah seorang pria tulen kelahiran Sukabumi, berparas tampan rupawan namun tak dermawan, tapi selalu membawa keceriaan dimana pun ia berada. Eh agak ga penting dan buang-buang waktu juga yah gue ngejelasin biodata dia disini. Oke kembali ke hamster ! *sambil nunjuk hamster*.Karena emang hamster-hamster itu punya kami berdua dan emang udah diniatin dari awal buat beli dan ngerawat mereka bareng-bareng, apapun yang terjadi? ya apapun yang terjadi. Kami pun bersumpah di bawah pohon petay untuk memelihara mereka bersama. Jelegerrrrrr *suara petir pun menyambar*.
"Kurang asik nih klo mereka ga kita kasih nama, klo mereka berdua mau kenalan kan susah. Gimana cara nyebutin nama, kan ga punya nama". kata Gagat.
"iya..namanya apa yah ?" jawab gue sambil berpikir keras.
"Emmmmh..apa dong ?" Gagat bingung.
"apa dong ?" Gue balik nanya.
"apa dong?" Gagat tambah bingung.
"apa dong?" Gue balik bingung.
Kami berdua pun binggung. Kalian bingung juga ga ? Kemudian hening.
Kami pun merenung di bawah pohon petay. Mencari-cari nama yang baik untuk karier mereka berdua di masa depan. Akhirnya setelah pertapaan dan pergulatan emosi yang sungguh melelahkan..
"Jonatan dan Sabrina !!!!! itu nama yang keren buat mereka". Gagat - 20 tahun - mahasiswa - berteriak.
Gue pun setuju dengan nama itu walau sempet terdengar aneh karena lebih keren nama piaraan dari nama majikannya. Tapi yaaaa mau gimana lagi. Kami sepakat . Kami pun mematenkan nama mereka di bawah pohon petay, Jonatan dan Sabrina.
Nama yang keren, gaol dan funky sudah mereka miliki, mereka pun bisa berkenalan dengan percaya diri.
"Hai..emmmh sori, Bapa kamu tukang tahu yah ?" .Sabrina - Single - Berdarah biru - Agresif - Suka makan koaci.
"Ko ko ko koooooook tao siwhhhhhhh ?". Jonatan - Jomblo - Romantis - Alay - Bete klo poninya ada yang pegang.
"Soalnya kamu telah meng-Sumedang-kan hatiku..". Jawab sabrina sambil tak henti mengedipkan matanya yang emang dari kemaren lagi sakit mata.
"iiiiwhhh kamyu tuch romantis abiezzzz yuphhhh, sukaaa dewhhh sama kamyuu". Jonatan pun tanpa ragu dan malu langsung menyatakan perasaannya pada sabrina.
Singkat cerita mereka pun resmi berpacaran. Dunia terasa indah tanpa beban dimata mereka berdua. Gue dan Gagat pun senang melihat mereka berdua bisa menjalin asmara. Kami pun berniat mengawinkan Jonatan dan Sabrina secepat mungkin, soalnya takut juga yah jadi omongan tetangga kalo kalo sabrina keburu hamil. Yah gue sama Gagat sih cuma menjaga hal itu aja sih ga ada niat lain.
Oke, dihari itu juga, dibawah pohon petay kami putuskan untuk mengawinkan mereka berdua. Setelah penghulu datang, prosesi pun dimulai dan Alhamdulillah yah semua berjalan lancar. Sabrina tampak terharu. Gagat pun ikut meneteskan air mata dari hidungnya yang tambun.
Kini mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami istri yang romantis. Jonatan sering bikinin Sabrina puisi-puisi indah yang bikin Sabrina dimabuk kepayang.
salah satu puisi Jonatan untuk Sabrina
Oia, gue dan Gagat sepakat klo Jonatan dan Sabrina akan tinggal dirumahnya Gagat, Jonatan udah setuju dan Sabrina sebagai istri yang sholelah harus setuju dengan keputusan ini. Gagat pun membawa sepasang suami istri itu ke rumahnya.
Setelah beberapa hari tinggal di rumah Gagat, Jonatan dan Sabrina jadi sering berantem. Percekcokan rumah tangga pun tak bisa mereka hindari lagi. Jonatan sering mencoba untuk kabur dari rumah, begitupun Sabrina sudah beberapa kali mencoba bunuh diri dengan loncat dari atas lemari atau sekedar makan kotorannya sendiri tapi untung masih kepergok sama Gagat dan dengan sigap Gagat bisa menyelamatkannya. *Geleng2 sambil bilang ckckckck* *prihatin* .Gue dan Gagat pun udah sering nasehatin mereka berdua, tapi apalah daya hidung tak sampai.
Jonatan yang ternyata pemalas selalu membuat Sabrina naik darah. Sabrina pun yang hobi bolak-balik ke salon cuma buat keramas ataupun menggunting kuku jempolnya sering membuat Jonatan uring-uringan.
"Bebz, tao ga siwh keadaan keuangan Qita tuch lagie defisit ? jangand ke salon teruzz donkz". omel Jonatan pada istrinya.
"iya iya tapi kan aku juga butuh perawatan, klo aku cantik kan buat kamu juga, makanya kamu kerja jangan males-malesan ajaaaaa !" jawab sang istri ketus.
"plizzzz banged yup bebz, klo kaya ginie teruzz LO - GUE - FINISH !" emosi Jonatan pun tak tertahan lagi.
"oh gitu ? oke FINE !" Sabrina berteriak sambil melempar piring. *PRIIIIIING*.
Jonatan yang merasa tak terima mendapat lemparan piring dari sang istri segera membalas dengan melempar kursi. *PRAAAAAK*. Saling melempar barang-barang rumah tangga antar keduanya pun berlangsung sengit.
PRINGGGG...PRAKCINGTANGTANGTANGGGGGGGTARAKTAKDUNGCESTRAAAAAAAANG !
Di tengah perang alat rumah tangga itu tiba-tiba Jonatan diam dan memegangi dadanya. JENNGJENGJENG .Apakah yang terjadi pada Jonatan ?
Sabrina pun kaget dan menghentikan aksinya yang dari tadi hanya melempar-lempar barang disekitarnya. Sabrina segera berlari menangkap tubuh Jonatan yang akan jatuh ke lantai.
"Jooonaaataaaan...suamikuuuuu...kamu kenapaaaaa..???". teriak sabrina.
"Da da da da da da da da dadaku sakitd sekalie, akuh gag tahand" napas Jonatan terengah-engah namun tetap alay.
"kamu ga boleh matiiiiii, kamu belum beliin aku mobil suamikuuu..". teriak Sabrina sambil menangis.
"jaga ea dirimuu baek-baek, jangand nangizzz teruzz..i lophhhh eee...e......" kalimat Jonatan terpotong.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK !". tangis Sabrina semakin kencang. *backsound : saat terakhir - ST12*
Jonatan pun mati dipelukan istrinya. Sabrina berusaha tegar dan ikhlas menghadapi cobaan ini. Sambil menghapus air mata dan ingusnya, Sabrina segera menghubungi gue dan Gagat mengenai keadaan Jonatan. Waktu kejadian itu Sabrina tidak bisa meghubungi gue, jadi dia menghubungi Gagat. Gagat pun segera pulang kerumah dan melihat keadaan Jonatan. Gue yang yang waktu itu belum mendengar kabar mengenai tewasnya Jonatan, kaget ketika membaca wall di facebook gue yang di kirimkan oleh Gagat yang isinya, "Jonatan telah tiada, Sabrina menjadi janda :( ".
Jenazah Jonatan dihanyutkan di sungai dekat rumah Gagat. Sebelumnya Sabrina mencium kening Jonatan untuk penghormatan terakhir. Prosesi penghanyutan berlangsung dramatis dan mengharukan. Gue sendiri waktu itu ga bisa hadir, cuma dapet laporan dari Gagat klo Sabrina sempet mau ikut menghanyutkan diri ke sungai bersama jenazah Jonatan tapi untung tangan Sabrina masih bisa ketahan sama Gagat. huuufh *elus2dada*.
Setelah peristiwa itu Sabrina jadi sering murung dan melamun. "Hidupku kini flat" kata Sabrina .Terus langsung gue kasih chitato yang kata agnes monica "life is never flat", yaa biar hidup dia ga flat lagi gitu. Tapi kayanya tetep ga berhasil. Sabrina semakin mengkhawatirkan. Gue dan Gagat ga bisa diem gitu aja. Kami sempet berpikir buat nyariin pengganti Jonatan tapi kami urungkan soalnya ngeliat keadaan psikologis Sabrinanya juga yang masih trauma berat. Jadi keputusan akhirnya Gagat mengusulkan buat melepaskan Sabrina didaerah rumahnya Gagat. Tujuannya sih biar Sabrina bisa bebas menjalani hidup dan siapa tahu bisa ketemu jodohnya yang baru diluar sana.
Kami membicarakan hal ini kepada Sabrina dan untungnya Sabrina bisa mengerti dan ga kesinggung. Setelah packing barang-barangnya, Sabrina pun pamit dan mengucapkan terimakasih kepada kami. Sabrina memeluk erat gue dan Gagat. Gue dan Gagat pun mengusap bulu-bulu halus Sabrina. *unyu moment banget*.
Sabrina sempet mau ngasih kenang-kenangan buat gue dan Gagat sekantong biji koaci, tapi kami tolak dan gue bilang mending buat bekal kamu selama dijalan aja Sab, dunia luar akan terasa lebih kejam dan kamu pasti butuh makanan itu. Sabrina hanya tersenyum dan melangkah perlahan meninggalkan kami berdua. Sesekali Sabrina membalikan badan dan melambaikan tangannya yang imut pada kami. Semakin lama tubuh mungil Sabrina pun semakin menjauh dan hilang.
